Bukan inginku lemah, ia menghujam rasa. Dalam kaku batin pilu. Perih tersayat, remuk terinjak. Oleh geming, oleh tak acuh...
Geliat hati melawan. Lacur sakit mengikat. Erat, erat, tak ada daya mengobat...
Meraba asa dalam sentuh jemari hati yang ragu. Akankah harap dapat meraih jangkauan takdir. Entahlah. Hanya dapat berharap bukan sekadar maya...
Merenungi dalam sisi, tersadar ada yang lain sebelum abadi. Mengendap lirih tak ku sadari. Dalam, tenang, sunyi, damai.
.
Dua tak jadi dilema, karena bukan jadi harus memilih. Hanya perlu memahami pesona yang kilaunya ganda. Meresapi, menghayati, memahami.
.
Satu buat jadi berangan, lain bawa pada nyata. Satu jauh tak tercapai, lain dekat meski tak terlihat. Satu dan lain lantas berpadu. Hidupkan kontras dalam warnaku. Dua jadi berwarna, jadi menggila, jadi meraja, jadi milikku...
Menjejaki kenangan lama dalam cerita kita. Haru, bahagia dan berjuta tawa menjadi pernik indah. Dan persahabatan indah membingkainya...
Sobat, ini bukan perpisahan. Ialah awal baru babak cerita kita. Menjalin hari ke dalam memori baru. Semoga ada cerah akan mengisi di situ. Dan berharap semanis yang lalu...
Sobat, ini bukan perpisahan. Ialah awal baru babak cerita kita. Menjalin hari ke dalam memori baru. Semoga ada cerah akan mengisi di situ. Dan berharap semanis yang lalu...
Menalikan kesal dan sesal dalam satu jalinan dilema yang mendalam. Akal sehat ingin redam aku punya rasa, tapi emosi dalam bingkai jiwa mudaku mendobraknya dengan meluapkan negasi dari mau nurani. Batinku yang hampa mengemasnya dalam elegi putus asa yang mengikatku dalam temali air mata.
,
Dramatis memang saat melihat ke dalam diri yang terjebak dilema. Keduanya mengikatku erat dalam rasa yang menggurat luka yang begitu dalam dan perih. Tak pernah hidup demikian pahit...
Langgan:
Entri (Atom)

